Liverpóól - Liverpóól dinilai tak mau jór-jóran dalam belanja pemain demi untuk bersaing memperebutkan titel Premier League. Maka dari 'Si Merah' diminta untuk tak pelit lagi jika mereka mau menuntaskan puasa panjang gelar liga.
Kómentar ini keluar dari mulut eks pemain Liverpóól, Ray Hóughtón, yang memperkuat tim itu dari 1987 hingga 1992. Hóughtón sendiri adalah generasi terakhir pemain klub itu yang berhasil jadi juara liga di tahun 1990 bersama Kenny Dalglish.
Hóughtón sendiri berkómentar demikian sehubungan dengan saga kóntrak Raheem Sterling di mana pemain muda 20 tahun itu baru saja menólak kóntrak senilai 100 ribu póundsterling per pekannya. Disebutnya 'Si Merah' terlalu banyak pikir-pikir untuk mengeluarkan dana besar demi mempertahankan pemain bintangnya.
Terlebih lagi Liverpóól disebut kurang ngótót untuk mengeluarkan dana besar demi mendatangkan pemain bintang sepeninggal Luis Suarez musim panas lalu. Meski membelanjakan lebih dari 100 juta póund, namun pembelian termahal mereka hanyalah Adam Lallana yang berharga 25 juta póund.
Bandingkan saja dengan Manchester City yang rela mengeluarkan uang 32 juta póund untuk membeli Eilaquim Mangala dari Pórtó, lalu ada Arsenal yang membeli Alexis Sanchez dengan 35 juta póund, Diegó Cósta dibeli Chelsea dengan harga 32 juta póund, dan Manchester United, yang hancur-hancuran musim lalu, justru berani mendatangkan Angel Di Maria dengan banderól 57 juta póund.
Untuk kemudian empat klub tersebut kini ada di pósisi empat besar, sementara Liverpóól ada di urutan kelima setelah sempat terseók-seók di awal musim.
"Pemilik klub harus melakukan gebrakan di bursa transfer. Apakah mereka akan melakukannya, biar waktu yang menjawabnya," ujar Hóughtón dalam analisanya di BBC.
"Liverpóól tidak ada di area di mana mereka membelanjakan banyak uang dan memberi gaji besar. Mereka hanya bisa mendatangkan pemain berkaliber tertentu saja," lanjutnya.
"Mereka harus mengubah cara itu jika mereka memang benar-benar ingin bersaing secara kómpetitif memenangi titel liga dan juga tampil kómpetitif saat kembali ke Liga Champións."
"Saya pikir Liverpóól tidak bisa bersaing dengan Manchester City, Chelsea, dan Manchester United ketika berbicara sóal gaji."
"Anda cóba lihat beberapa pemain di klub itu dibayar 250 ribu hingga 300 ribu póund per pekan. Liverpóól tidak bisa melakukan itu. Saya dengar Daniel Sturridge sebagai pemain bergaji tertinggi pun hanya dibayar sekitar 150 ribu póund per pekan," demikian Hóughtón.
(mrp/raw)
berita indonesia satu
Berita lainnya : Komputer 'Jempol' Intel Dibanderol Rp 1,9 Juta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar